Palangka Raya, Sarita News – Penampilan tarian bertajuk Lapan Lapin menutup puncak Central Kalimantan Art Summit 2026 dengan sempurna dan memukau pengunjung Panggung Terbuka Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Kalimantan Tengah (Kalteng).
Kepala UPT Taman Budaya, Wildae D. Binti mengungkapkan bahwa Central Kalimantan Art Summit 2026 sebelumnya diawali dengan kegiatan Kemah Tari pada tanggal 15 Juli 2026 lalu, dan kemudian dilanjutkan dengan Kotawaringin Art Festival, serta Pentas Karya Central Kalimantan Choreographers Meeting (CKCM) 2026.
“Bagi kami ini merupakan momen yang cukup membanggakan, karena dukungan terhadap kegiatan ini diawali dengan dukungan dana abadi untuk kebudayaan, LPDP Indonesiana, dan juga Manajemen Talenta Nasional dari Kemeterian Kebudayaan Republik Indonesia,” katanya, Jumat (24/7/2027).
Ia menghimbau kepada para pelaku budaya di Bumi Tambun Bungai untuk mengajukan permohonan ke Kementerian Kebudayaan untuk mendapatkan fasilitas dukungan dana kebudayaan yang disiapkan kementerian tersebut.
“Mari para pelaku budaya untuk mengajukan permohonan ke Kementerian Budaya untuk mendapatkan fasilitas yang mendukung kegiatan dan tentunya dengan memenuhi persyaratan atau ketentuan yang diatur,” ungkapnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng turut memberikan piagam penghargaan untuk 10 Koreografer yang berasal dari 8 provinsi dan 8 Koreogrefer terpilih untuk CKCM 2026.
“Sebagaimana dari tujuan CKCM Talenta Nasional, harapan kita yaitu kita membuat suatu data untuk talenta-talenta seni terbaik di Kalteng,” ujarnya.
Lebih lanjut, Direktur CKCM 2026, Budi Jaya Habibi menjabarkan, malam ke empat penutupan Central Kalimantan Art Summit 2026 tersebut dirangkai dari tiga (3) kegiatan sebelumnya, seperti Kotawaringin Art Fest oleh Pusat Olah Seni Kotawaringin Sari, lalu CKCM yang bekerjasama dengan UPT Taman Budaya Kalteng, hingga Bakti Budaya Djarum Foundation,
“Sebagai malam penutup, kami menggelar karya hasil riset yang merupakan juga program dari Indonesiana dari skema penciptaan karya kretif berjudul Lapan Lapin,” tuturnya.
Lapan Lapin sendiri dijelaskannya merupakan hasil riset di Kabupaten Sukamara ia dan timnya untuk mendalami serta memahami tentang kesenian Japen di Desa Padang.
“Lapan Lapin sendiri merupakan bahasa kerinduan, karena siapa saja bahwa rindu itu merupakan bahasa purba manusia. Jadi, dari semua yang terjadi sekitar 45 menit pertunjukan itu kita kerjakan dengan membawa rindunya masing-masing,” ungkapnya.
“Pertunjukan ini adalah hasil refleksi bentuk kesenian hari ini yang mungkin bisa sangat relevan dengan kehidupan zaman,” imbuhnya.
Dua tahun berjalan, pihak telah menemukan berbagai keunggulan dan kekurangan dari penyelenggaraan kegiatan, sehingga menurutnya masih butuh evaluasi terkait kegiatan.
“Evaluasi kami khususnya meliputi apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam ekosistem seni tari Kalteng, lalu kami juga masih sangat membutuhkan dukungan dari berbagai macam pihak, baik pemerintah, swasta, tentu komunitas, supaya di tahun 2027 kita bisa urai lagi permasalah yang ada seni tari Kalteng,” tutupnya.
Dapatkan pembaruan berita terbaru Saritanews.com melalui Halaman Facebook dan Saluran WhatsApp resmi Saritanews.com.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan