Palangka Raya, Sarita News – Bakal calon Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D., menegaskan komitmennya membangun tata kelola kampus yang terbuka, inklusif, dan responsif terhadap kritik.
Menurutnya, komunikasi yang baik dengan media, mahasiswa, serta seluruh sivitas akademika menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan perguruan tinggi yang transparan dan dipercaya publik.
Komitmen tersebut disampaikan Prof. Bhayu saat bersilaturahmi dan berdialog bersama sejumlah jurnalis di Kota Palangka Raya beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa kritik dan masukan bukanlah hambatan bagi seorang pemimpin, melainkan bagian dari proses memperbaiki kebijakan dan meningkatkan kualitas institusi.
“Siap terbuka berdialog dan memfasilitasi semua kepentingan kampus. Tidak akan menyumbat komunikasi baik dengan media ataupun mahasiswa atau lainnya,” katanya kepada awak media, Senin (29/6/2026).
Ia menilai keterbukaan informasi merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi.
Karena itu, hubungan yang konstruktif dengan media perlu dijaga sebagai bagian dari upaya menghadirkan tata kelola kampus yang transparan dan akuntabel.
Di sisi lain, Prof. Bhayu juga menegaskan pentingnya memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, kritik, maupun gagasan.
Menurutnya, mahasiswa merupakan bagian utama dalam ekosistem pendidikan tinggi yang perlu dilibatkan dalam proses pembangunan kampus.
“Kampus tidak bisa berjalan sendiri. Semua unsur harus dilibatkan, karena kemajuan UPR merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.
Lebih jauh, ia memaparkan visinya menjadikan UPR sebagai perguruan tinggi yang mampu mencetak sumber daya manusia unggul dan berdaya saing global, tanpa mengesampingkan karakter serta kebutuhan pembangunan di Kalimantan Tengah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Prof. Bhayu menilai kolaborasi antara dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat menjadi elemen yang tidak dapat dipisahkan.
Ia meyakini berbagai persoalan di lingkungan kampus akan lebih mudah diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka dan semangat musyawarah.
“Kita ingin UPR menjadi institusi yang kuat, terbuka, dan mampu memberikan manfaat besar bagi masyarakat Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Menurut Prof. Bhayu, budaya keterbukaan juga perlu menjadi identitas dalam tata kelola UPR ke depan.
Ia berpandangan bahwa kemajuan sebuah perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga oleh kemampuan membangun komunikasi yang sehat serta menghargai keberagaman pandangan di lingkungan kampus.
“Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam dunia akademik. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengelolanya menjadi kekuatan untuk memajukan kampus,” tutupnya.
Dapatkan pembaruan berita terbaru Saritanews.com melalui Halaman Facebook dan Saluran WhatsApp resmi Saritanews.com.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan