Palangka Raya, Sarita News – Presidium Nasional Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Indonesia (ILMISPI) Wilayah Kalimantan, Yosafat Menteng, mengingatkan seluruh masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring memasuki puncak musim kemarau di Pulau Kalimantan.

Menurut Yosafat, kondisi alam di Kalimantan mulai menunjukkan peningkatan risiko terjadinya karhutla. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Kota Palangka Raya juga mulai merasakan kabut asap tipis yang menyelimuti sejumlah wilayah.

Meski belum berada dalam kondisi darurat, menurutnya fenomena tersebut merupakan sinyal awal yang tidak boleh dianggap remeh.

“Pengalaman Kalimantan telah membuktikan bahwa kabut asap selalu diawali oleh titik-titik api kecil yang luput dari perhatian,” ujarnya, Senin (27/7/2026).

Yosafat mengungkapkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat musim kemarau terus meluas di Indonesia. Hingga akhir Juli 2026, lebih dari 72 persen zona musim telah memasuki musim kemarau.

Selain itu, kondisi El Niño yang mulai menguat diperkirakan akan semakin mengeringkan vegetasi dan meningkatkan potensi munculnya titik panas (hotspot), terutama di kawasan hutan dan lahan gambut. BMKG juga telah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla selama periode tersebut.

Di sisi lain, hasil pemantauan ekosistem gambut juga menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Pantau Gambut mencatat lebih dari 23.500 titik panas terdeteksi di kawasan ekosistem gambut Indonesia sejak awal 2026, dengan sebaran signifikan berada di Pulau Kalimantan.

“Kondisi ini menjadi indikator bahwa risiko kebakaran akan semakin meningkat apabila langkah-langkah pencegahan tidak dilakukan secara masif,” katanya.

Yosafat menilai ancaman terbesar bukan hanya kebakaran hutan, tetapi juga bencana kabut asap berkepanjangan yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, perekonomian, transportasi, hingga merusak ekosistem Kalimantan.

Ia mengingatkan agar tragedi karhutla tahun 2015 tidak kembali terulang dan terlebih hal tersebut sangat merugikan banyak pihak.

“Tragedi tahun 2015 menjadi pelajaran yang tidak boleh terulang. Saat itu sekitar 2,6 juta hektare hutan dan lahan terbakar di Indonesia dengan estimasi kerugian ekonomi mencapai lebih dari Rp200 triliun,” ujarnya.

Akibat bencana tersebut, ratusan ribu masyarakat mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), ribuan sekolah menghentikan kegiatan belajar mengajar, serta aktivitas penerbangan dan transportasi terganggu akibat pekatnya kabut asap.

Menurutnya, kemunculan kabut asap tipis di Palangka Raya saat ini harus menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat agar tidak lengah.

“Kabut asap yang mulai menyelimuti Kota Palangka Raya harus menjadi alarm bagi kita semua. Jangan menunggu sampai api membesar baru bergerak. Pencegahan adalah kunci utama agar Kalimantan tidak kembali mengalami bencana ekologis seperti tahun 2015,” tuturnya.

Yosafat mengajak masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam upaya pencegahan karhutla. Apabila menemukan titik api, masyarakat diminta segera memadamkannya apabila kondisi masih memungkinkan dan aman.

“Jika tidak memungkinkan, segera laporkan kepada Posko Karhutla, aparat desa, atau pihak berwenang terdekat agar dampaknya tidak semakin meluas,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat, khususnya para perokok, agar tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di pinggir jalan, semak belukar, lahan kosong, maupun kawasan hutan.

“Kelalaian sekecil apa pun dapat memicu kebakaran besar,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yosafat menekankan bahwa pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, pemerintah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, media massa, tokoh adat, tokoh agama, hingga masyarakat harus memperkuat sinergi dalam melakukan patroli, edukasi, deteksi dini titik api, serta penanganan cepat terhadap setiap potensi kebakaran.

Ia juga mendorong pemerintah segera membentuk Posko Karhutla di berbagai titik rawan hingga ke tingkat desa guna mempercepat upaya pencegahan dan penanganan.

“Pencegahan kebakaran hutan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Bencana ini bukan peristiwa baru di Kalimantan, tetapi hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Saya mendorong pemerintah segera membentuk Posko Karhutla di titik-titik rawan agar bencana ini dapat dicegah secara cepat dan efektif hingga ke desa-desa,” ujarnya.

Yosafat menegaskan bahwa menjaga kelestarian hutan merupakan tanggung jawab bersama.

“Kalimantan adalah paru-paru bangsa. Menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga kewajiban moral seluruh masyarakat. Jangan biarkan kelalaian hari ini berubah menjadi penderitaan jutaan orang di kemudian hari. Mari bersama menjaga Kalimantan dari ancaman karhutla dan kabut asap,” tutupnya.

Ikuti Saritanews.com di Facebook dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Saritanews.com melalui Halaman Facebook dan Saluran WhatsApp resmi Saritanews.com.