Palangka Raya, Sarita News – Wakil Ketua I Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Dede Ardiansyah, meminta sekolah memaksimalkan pembelajaran tatap muka (PTM).
Hal ini diungkapkannya untuk mengejar ketertinggalan materi siswa selama penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kabut asap yang sudha beberapa bulan terjadi di Kota Palangka Raya.
Dede menjelaskan, kondisi udara yang tidak sehat beberapa waktu lalu dangat mengganggu proses belajar mengajar dan mengkibatkan materi pembelajaran yang seharusnya disampaikan sesuai target kurikulum belum seluruhnya selesai.
Kegiatan belajar mengajar kini kembali berlangsung secara tatap muka, sementara pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) semakin dekat.
“Harapan kami, tenaga pendidik atau sekolah-sekolah ini bisa membuat suatu formula untuk mengejar ketertinggalan materi-materi yang belum tersampaikan dan harusnya sudah waktunya tersampaikan,” katanya, Selasa (3/11/2026).
Ia meminta sekolah mengevaluasi materi yang telah diberikan kepada siswa. Target kurikulum yang seharusnya tercapai tidak boleh terus tertinggal akibat beberapa bulan sebelumnya siswa harus menjalani PJJ.
Dede menilai, penyelesaian ketertinggalan materi menjadi pekerjaan rumah bagi sekolah dan Dinas Pendidikan. Materi tersebut perlu dituntaskan agar siswa memiliki persiapan yang cukup untuk mengikuti UAS.
Ia juga menyoroti kemungkinan perubahan jadwal ujian apabila materi pembelajaran belum selesai disampaikan.
“Kalau memang nanti terjadi kemunduran UAS, harus dimundurkan karena kurikulum belum mencapai atau belum habis waktunya, ya otomatis ada kemunduran,” ungkap kader Partai Gerindra Palangka Raya tersebut.
Meski demikian, Dede berharap kondisi udara di Palangka Raya segera kembali normal sehingga pembelajaran tatap muka dapat berjalan maksimal.
Hujan yang mulai turun hampir setiap hari dalam beberapa waktu terakhir, menurutnya, menjadi harapan untuk memperbaiki kualitas udara, meskipun belum merata di seluruh wilayah.
Akan tetapi, kondisi udara tetap harus menjadi pertimbangan dalam menentukan kelanjutan pembelajaran maupun pelaksanaan ujian.
“Kalau memang didapati nanti kondisi memburuk atau kurang sehat, otomatis kita harus mempertimbangkan kembali dan mengambil kebijakan. Karena ini terkait kesehatan yang tidak bisa kita paksakan, terkait nyawa,” tukasnya.
Dapatkan pembaruan berita terbaru Saritanews.com melalui Halaman Facebook dan Saluran WhatsApp resmi Saritanews.com.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan