Palangka Raya, Sarita NewsAuliya Rahman Ghofar (25) menunduk sambil menatap hasil tangkapan kameranya di layar gawai cukup lama. Sesekali jemarinya menggeser layar, memperhatikan satu per satu gambar yang baru saja ia abadikan.

Ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Tatapannya seolah menerawang, membawa pikirannya kembali ke beberapa bulan lalu, ketika Kota Cantik Palangka Raya masih terasa berbeda.

Kini, hampir tiga bulan hujan tak kunjung membasahi kota. Tanah mulai mengering dan debu beterbangan di sejumlah ruas jalan. Sementara langit perlahan tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pernah sehari penuh cahaya Matahari seakan tak mampu menembus ke tanah, namun hawanya terasa sangat gerah dan jarak pandang sangatlah terbatas.

Bagi Auliya, pemandangan itu bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Terlebih, sejak enam tahun lalu ia menginjakkan kaki ke tanah Borneo.

Perantau asal Pulau Jawa itu mengaku terkejut melihat perubahan kondisi Palangka Raya dalam beberapa bulan terakhir. Walaupun saat masih duduk di sekolah menengah pertama ia sudah menyaksikan bencana karhutla lewat layar kaca.

Akan tetapi, saat merasakan langsung dampak karhutla, Auliya mengaku marah. Kota yang kini menjadi tempatnya mencari penghidupan perlahan diselimuti asap pekat dan mengganggu aktivitas hingga kesehatan.

“Benar-benar nggak menyangka. Kok bisa selama ini nggak turun hujan,” ujarnya.

Kemarau panjang yang diprediksi BMKG perlahan mengubah wajah Kalteng. Hujan tak kunjung datang, tanah mengering, dan api mulai menemukan jalannya di antara lahan-lahan yang rapuh.

Auliya datang ke Kalimantan dengan harapan sederhana, mencari kehidupan yang lebih baik. Ia meninggalkan kedua orang tuanya di kampung halaman.

Di tanah perantauan, Auliya hanya ditemani kakak semata wayangnya serta sejumlah kerabat yang lebih dahulu menetap di Kalimantan.

Jauh dari kampung halaman, Auliya kini harus mengenal sisi lain Pulau Borneo, yang bukan hanya hamparan hutan yang luas dan sungai-sungai besar yang selama ini kerap ia dengar dalam cerita, melainkan juga musim kemarau panjang yang membawa ancaman.

Kabut asap yang perlahan menyelimuti Palangka Raya menjadi pengalaman baru bagi pemuda berusia 25 tahun tersebut sejak pertama kali datang. Pandangan terbatas, aroma khas yang merasuk hingga ke organ dalam.

“2023 lalu sempat merasakan (kabut asap) juga, namun tak separah sekarang,” ungkapnya.

Sebuah kenyataan yang sama sekali tidak ia kenal ketika pertama kali memutuskan merantau ke Kalimantan.

Dikejar Deadline, Menembus Asap

Sebulan terakhir menjadi masa yang melelahkan bagi Auliya. Pekerjaan datang silih berganti. Deadline seolah tak pernah berhenti mengejarnya.

Sebagai fotografer, kamera menjadi senjata utamanya untuk merekam setiap peristiwa. Kantor pusat membutuhkan gambar-gambar terbaru dari lapangan, sementara situasi karhutla terus memburuk.

Di tengah tuntutan pekerjaan itu, ancaman justru ikut menghadang langkahnya.

“Saat meliput karhutla di kawasan Jalan Menteng XX Palangka Raya, saya pernah kecebur di lubang yang ada airnya, basah sampai pinggang. Untungnya kamera bisa selamat,” tuturnya.

Suatu malam, Auliya bersama rekannya melaju menuju Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau. Kawasan itu menjadi salah satu titik yang terdampak karhutla paling hebat.

Auliya juga pernah mendengar bahwa saat karhutla hebat yang melanda Kalteng pada tahun 2015 lalu, Presiden Indonesia Joko Widodo sempat menyambangi daerah itu.

Perjalanan malam itu membawanya pada pemandangan dan pengalaman yang sulit dilupakan.

Auliya menembus asap tebal sepanjang hampir 40 kilometer perjalanan. Di banyak titik sepanjang jalan api masih melahap ranting, rumput, hingga pohon.

Dari kejauhan, kepulan asap membubung tinggi dan perlahan menutupi langit malam. Kobaran api terlihat menjilat vegetasi di sekitarnya. Di tengah kepungan asap, sejumlah petugas berjibaku memadamkan api yang terus bergerak.

Auliya segera menghentikan sepeda motornya dan kamera yang ia bawa langsung dinyalakan.

Gelapnya malam menjadi tantangan tersendiri. Dengan jarak pandang yang terbatas dan asap yang menusuk mata, ia berusaha menangkap setiap momen yang terjadi di hadapannya.

Namun, keinginan untuk mendokumentasikan peristiwa itu membuatnya tetap bertahan.

“Bau asapnya sampai ke tenggorokan. Kalau kurang minum, itu bisa pingsan, makanya terus bawa minuman,” ujarnya.

Ancaman gangguan pernapasan, mata yang terasa perih akibat asap, hingga kobaran api yang sewaktu-waktu dapat membesar, seolah tak mampu menghentikan langkahnya.

Auliya terus bekerja

Hingga jarum jam menunjukkan pukul 02.00 WIB, ia masih berada di lokasi, mengabadikan pertarungan manusia melawan api di tengah malam yang pekat.

Di balik lensa kameranya, Auliya menyaksikan sisi lain Kalimantan. Bukan lagi sekadar tanah perantauan yang menawarkan harapan hidup baru, melainkan sebuah wilayah yang pada musim tertentu harus berjuang menghadapi ancaman api dan asap.

Selain lensa kameranya, lensa matanya juga menangkap dengan jelas kejamnya api yang melalap hutan. Akibatnya matanya turut memerah akibat asap, hidungnya turut merasakan aroma tajam yang masuk ke paru-paru.

Ketika malam semakin larut, Auliya akhirnya meninggalkan lokasi. Kamera masih tergantung di tubuhnya, sementara bau asap tertinggal di pakaian dan rambutnya.

Foto-foto api malam itu tersimpan rapi di dalam gawainya. Namun, bagi Auliya, yang tersisa bukan hanya gambar. Ada rasa perih di mata, sesak di tenggorokan, dan pengalaman tentang Borneo yang tak pernah ia bayangkan enam tahun lalu.

Sebuah Borneo yang kini tak hanya ia lihat melalui lensa kameranya, tetapi juga ia rasakan sendiri di tengah asap, api, dan malam yang panjang.

“Saya saja yang hitungannya baru tinggal di Palangka Raya, napas udah sesak, bagaimana dengan masyarakat yang sudah lama di sini,” tutupnya.

Ikuti Saritanews.com di Facebook dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Saritanews.com melalui Halaman Facebook dan Saluran WhatsApp resmi Saritanews.com.