Palangka Raya, Sarita News – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, masih terus berlangsung hingga memasuki hari ke-26, Selasa (28/7/2026).

Luas lahan gambut yang terbakar diperkirakan telah mencapai lebih dari 50 hektare. Di tengah kondisi cuaca yang kering dan keterbatasan sumber air, sekitar 400 personel gabungan tetap disiagakan untuk memadamkan api.

Kapolres Pulang Pisau, AKBP Iqbal Sengaji, mengatakan seluruh personel saat ini difokuskan pada upaya pemadaman karhutla yang masih terjadi di wilayah tersebut.

“Situasi saat ini di Polres Pulang Pisau, kami fokus dalam rangka pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang kurang lebih sudah berjalan selama 26 hari,” ujar Iqbal.

Ia menjelaskan, operasi pemadaman melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, serta dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.

“Kita bergabung di sini dari TNI-Polri, BPBD, pemerintah daerah, dan juga dibantu dari provinsi. Personel saat ini sekitar 400 orang, baik dari Polres Pulang Pisau, Polda Kalteng maupun jajaran eksternal,” jelasnya.

Menurut Iqbal, tantangan terbesar dalam proses pemadaman adalah karakteristik lahan gambut yang membuat api sulit dipadamkan, ditambah kondisi sumber air yang semakin terbatas.

“Tantangannya tentu memadamkan api. Sudah sekitar 26 hari kita berjibaku bersama TNI, Polri, BPBD, dan unsur lainnya. Sumber air juga semakin minim. Bapak Kapolda bahkan setiap hari turun langsung untuk mengecek kondisi di lapangan,” katanya.

Untuk mengatasi keterbatasan air, tim gabungan memanfaatkan embung, sumur bor, serta membuat saluran air menggunakan alat berat agar pasokan air tetap tersedia selama proses pemadaman.

“Sumber air sangat minim. Namun sudah banyak dibantu dengan embung, sumur bor, dan kanalisasi menggunakan alat berat. Semua itu terus kami maksimalkan,” ungkapnya.

Iqbal menambahkan, evaluasi dilakukan secara rutin setiap hari guna menyusun strategi pemadaman yang lebih efektif. Setiap kendala di lapangan dibahas bersama sebelum menentukan langkah lanjutan.

“Setiap rangkaian kegiatan diawali dengan analisa dan evaluasi (anev). Setelah pemadaman juga dilakukan evaluasi sehingga setiap kendala dapat dibahas bersama untuk mencari solusi pada operasi berikutnya,” tuturnya.

Di tengah cuaca ekstrem, asap pekat, dan intensitas kerja yang tinggi selama hampir satu bulan, kondisi kesehatan personel gabungan dipastikan tetap terpantau.

“Saat ini kondisi petugas sehat semua. Kami rutin melaksanakan apel, berkomunikasi dengan seluruh personel, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala,” tukasnya.

Ikuti Saritanews.com di Facebook dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Saritanews.com melalui Halaman Facebook dan Saluran WhatsApp resmi Saritanews.com.