Palangka Raya, Sarita News – Lima orangutan Kalimantan kembali menghirup udara bebas setelah dilepasliarkan ke habitat alaminya di Resort Tumbang Hiran, Seksi Pengelolaan Wilayah II Kasongan, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Tengah (Kalteng).
Pelepasliaran dilakukan Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, Balai TNBBBR, dan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) bersama sejumlah mitra nasional maupun internasional.
Kelima orangutan tersebut terdiri atas tiga betina dan dua jantan, yakni Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru. Mereka dinyatakan siap hidup mandiri di alam liar setelah menjalani proses rehabilitasi panjang di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng.
Salah satu kisah yang paling menyita perhatian adalah Himba, orangutan jantan berusia 15 tahun yang ditemukan saat masih bayi dalam kondisi luka bakar serius akibat kebakaran hutan. Setelah menjalani rehabilitasi selama 14 tahun, Himba tumbuh menjadi individu yang aktif menjelajah dan terampil mencari pakan alami.
Perjalanan panjang juga dilalui Lykke, orangutan betina berusia 23 tahun. Ia tiba di Nyaru Menteng bersama induknya ketika masih berusia sekitar satu bulan. Setelah hampir 22 tahun direhabilitasi, Lykke dikenal sebagai individu yang mandiri dan lebih banyak beraktivitas di tajuk pohon.
Sementara itu, Farida, orangutan betina berusia 19 tahun asal Tumbang Samba, dinilai memiliki kemampuan eksplorasi dan adaptasi yang baik selama masa pra-pelepasliaran. Bersama Nett dan Semeru, ia kini memulai kehidupan baru di habitat alaminya.
Direktur Konservasi Kawasan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Sapto Aji Prabowo, mengatakan pelepasliaran orangutan merupakan bagian penting dari upaya pemulihan ekosistem dan penguatan fungsi kawasan konservasi.
“Keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah individu yang dilepasliarkan, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga ekosistem hutan agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” ujarnya kepada awak media melalui siaran pers, Jumat (19/6/2026).
Menurut Sapto, perlindungan habitat, pengelolaan kawasan yang efektif, dan pemantauan pasca-pelepasliaran menjadi kunci keberhasilan konservasi jangka panjang.
Kepala BKSDA Kalteng Andi Muhammad Kadhafi mengatakan pelepasliaran kali ini merupakan yang ke-47 bersama Yayasan BOS di Kalteng.
“Setiap pelepasliaran orangutan merupakan bagian dari upaya bersama untuk memulihkan keseimbangan ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia,” katanya.
Kepala Balai TNBBBR Mochamad Satori menegaskan kawasan TNBBBR menjadi salah satu benteng penting bagi kelangsungan hidup orangutan di alam liar.
“Kehadiran mereka di alam memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan tropis, sehingga perlindungan kawasan konservasi harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas pihak dan dukungan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan BOS Jamartin Sihite menilai setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa cerita perjuangan panjang.
“Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru telah melalui bertahun-tahun rehabilitasi untuk belajar kembali menjadi orangutan liar. Pelepasliaran ini bukan sekadar akhir dari proses rehabilitasi, tetapi awal dari kehidupan baru mereka di alam,” terangnya.
Berdasarkan data Yayasan BOS, sejak 2012 sebanyak 556 orangutan telah dilepasliarkan ke tiga lokasi habitat alami, yakni Hutan Lindung Bukit Batikap dan TNBBBR di Kalteng serta Hutan Kehje Sewen di Kalimantan Timur.
Di Kalteng, jumlah orangutan yang telah dilepasliarkan sebelumnya mencapai 226 individu. Dengan pelepasliaran lima orangutan kali ini, totalnya meningkat menjadi 231 individu. Secara keseluruhan, jumlah orangutan yang telah dikembalikan ke alam liar oleh Yayasan BOS sejak 2012 kini mencapai 561 individu.
Pelepasliaran tersebut menjadi pengingat bahwa upaya konservasi tidak berhenti saat satwa kembali ke hutan. Keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada kemampuan seluruh pihak menjaga habitat, memperkuat perlindungan kawasan, dan memastikan pemantauan pasca-pelepasliaran berjalan berkelanjutan.
Simak Berita Sarita News Melalui Google Berita

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan