Palangka Raya, Sarita News – Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir relatif stabil, bahkan mampu bertahan di tengah tekanan global.
Namun, di balik capaian tersebut, muncul paradoks yang semakin nyata: meningkatnya pengangguran di kalangan terdidik.
Hal ini menunjukkan kegagalan pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi secara optimal.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 November 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia per Agustus 2025 tercatat sebesar 4,85% atau sekitar 7,46 juta orang, dengan total angkatan kerja mencapai 154 juta orang.
Sekilas, angka ini menunjukkan perbaikan tipis dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di balik itu, terdapat persoalan yang lebih mendasar: meningkatnya pengangguran di kalangan terdidik yang tidak terserap secara optimal oleh pasar kerja.
Masalah ini tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya lapangan pekerjaan, tetapi lebih pada ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dan kebutuhan industri.
Fenomena vertical mismatch di mana individu bekerja tidak sesuai dengan tingkat atau bidang pendidikannya menjadi gambaran nyata bahwa sistem pendidikan belum mampu menjawab tuntutan dunia kerja.
Lulusan perguruan tinggi sering kali berada dalam posisi paradoks: dianggap terlalu tinggi untuk pekerjaan tertentu, tetapi tidak cukup siap untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan spesifik.
Kondisi ini bukan hanya persoalan teknis ketenagakerjaan, melainkan cerminan kegagalan sistemik dalam merancang pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Perguruan tinggi masih cenderung berorientasi pada penguasaan teori, sementara dunia kerja menuntut kompetensi praktis dan kesiapan adaptasi.
Akibatnya, banyak lulusan terjebak dalam situasi yang ironis—memiliki gelar, tetapi tidak memiliki daya saing.
Lebih jauh lagi, fenomena ini mengungkap kelemahan dalam arah pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan yang tinggi ternyata belum mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas dan sesuai dengan profil tenaga kerja terdidik.
Tanpa transformasi struktural yang serius, pertumbuhan ekonomi berisiko menjadi sekadar capaian angka, tanpa dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan generasi muda.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, pengangguran terdidik berpotensi menjadi bom waktu sosial.
Kekecewaan akibat sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak dapat menurunkan kepercayaan terhadap sistem, memperlebar ketimpangan, dan memicu ketidakstabilan sosial.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat bonus demografi yang seharusnya menjadi peluang emas bagi Indonesia.
Oleh karena itu, diperlukan langkah yang lebih konkret dan terarah. Berdasarkan Human Capital Theory, pengangguran terdidik menunjukkan bahwa investasi pendidikan belum menghasilkan peningkatan produktivitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Oleh karena itu, secara teoritis diperlukan peningkatan kualitas human capital melalui pendidikan yang relevan, berbasis keterampilan, dan terintegrasi dengan pengalaman kerja nyata.
Pengangguran di kalangan anak muda dan tenaga terdidik menjadi salah satu risiko yang diperkirakan terus dihadapi Indonesia sepanjang 2026.
Tingkat pengangguran kaum muda mencapai sekitar 17%, menempatkan Indonesia di posisi teratas di Asia, sementara tingkat pengangguran usia dewasa hanya 1–3%.
Tenaga kerja terdidik mereka yang minimal berpendidikan SMA dan masih menganggur mendominasi angka pengangguran di Indonesia, mencapai hampir 65% dari total pengangguran.
Gelar akademik terbukti tidak lagi menjamin akses ke pekerjaan yang layak. BPS mencatat jumlah pengangguran di Indonesia meningkat sekitar 83.000 orang menjadi 7,28 juta jiwa per Februari 2025.
Pengangguran dengan pendidikan Diploma IV, S-1, S-2, dan S-3 mengalami peningkatan, sementara lulusan SMA ke bawah justru cenderung menurun.
Penyebab Utama Mismatch (Ketidakcocokan) Pendidikan & Industri, Keterlambatan Ekonomi & Deindustrialisasi, dan Kualitas Lulusan Belum Sesuai Kebutuhan Pasar.
Salah satu solusi utama untuk mengatasi kesenjangan keterampilan adalah memperluas program pelatihan dan pendidikan vokasional (kejuruan), termasuk investasi perusahaan pada pelatihan, reskilling, dan upskilling tenaga kerja. Kompas.id – Tahun 2026, Kerja Layak Bakal Masih Susah Dicari (Januari 2026) kompas.id.
Di sisi lain, mahasiswa dan lulusan juga harus menyadari bahwa gelar akademik bukan lagi satu-satunya modal untuk bersaing.
Kemampuan beradaptasi, keterampilan praktis, serta kemauan untuk terus belajar menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika dunia kerja modern.
Pada akhirnya, realitas ini menegaskan satu hal penting: gelar tidak lagi menjamin masa depan.
Tanpa perubahan yang serius dan menyeluruh, Indonesia tidak hanya menghadapi persoalan pengangguran, tetapi juga berisiko kehilangan satu generasi terdidik yang gagal menemukan tempatnya di negeri sendiri.
Nama Penulis : Karina Agnesia Putri
Tempat Tanggal Lahir : Desa Penda Barania, 17 Agustus 2008.
NIM : 2530103030054
Jurusan : Akuntansi
Fakultas : Ekonomi Dan Bisnis
Universitas : Universitas Palangka Raya.
Simak Berita Sarita News Melalui Google Berita

Tinggalkan Balasan