Jakarta, Sarita News – Persaingan menuju gelar juara Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya diwarnai persaingan antartim, tetapi juga meningkatnya kasus kartu merah yang memicu kontroversi.
Hingga menjelang babak semifinal, sedikitnya 14 pemain telah diusir keluar lapangan, menjadikan aspek disiplin sebagai salah satu isu yang paling banyak dibicarakan sepanjang turnamen.
Kasus kartu merah pertama yang menyita perhatian terjadi pada fase penyisihan grup ketika pertandingan Afrika Selatan melawan Meksiko menghasilkan tiga kartu merah sekaligus.
Dua pemain Afrika Selatan, Sphephelo Sithole dan Themba Zwane, harus meninggalkan lapangan akibat pelanggaran berbeda, sementara bek Meksiko César Montes juga menerima kartu merah setelah menggagalkan peluang emas lawan mencetak gol. Ketiga insiden itu menjadi awal tingginya catatan kartu merah pada Piala Dunia edisi kali ini.
Insiden serupa kembali terjadi saat Qatar menghadapi Kanada. Dalam pertandingan tersebut, dua pemain tuan rumah, Homam Ahmed dan Assim Madibo, diusir wasit karena melakukan pelanggaran yang dinilai menghilangkan peluang mencetak gol dan pelanggaran serius.
Pada fase grup pula, pemain Bosnia dan Herzegovina Tarik Muharemovic, gelandang Paraguay Miguel Almiron, bek Belgia Nathan Ngoy, bek Irak Rebin Sulaka, penyerang Uruguay Agustín Canobbio, serta bek Ekuador Piero Hincapié turut menerima kartu merah dalam pertandingan masing-masing.
Perdebatan mulai memuncak ketika penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun menerima kartu merah langsung saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar.
Berdasarkan regulasi FIFA, pemain yang menerima kartu merah langsung otomatis menjalani larangan bermain pada pertandingan berikutnya.
Namun, Komite Disiplin FIFA memutuskan menangguhkan pelaksanaan sanksi tersebut sehingga Balogun tetap dapat tampil di babak 16 besar.
Keputusan yang diambil Ketua Komite Disiplin FIFA, Mohammad Al-Kamali, itu memicu kritik karena dinilai berbeda dari praktik yang selama ini diterapkan FIFA.
Kontroversi semakin menguat ketika bek Inggris Jarell Quansah menerima kartu merah saat menghadapi Meksiko di babak 16 besar.
Quansah diusir setelah tinjauan VAR menunjukkan tekelnya membahayakan lawan. Berbeda dengan Balogun, bek Liverpool tersebut tetap harus menjalani hukuman larangan bermain sehingga Federasi Sepak Bola Inggris (FA) sempat mempertimbangkan langkah banding.
Perbedaan perlakuan terhadap dua kasus yang dianggap memiliki karakter serupa memunculkan kritik dari sejumlah mantan wasit FIFA yang mempertanyakan konsistensi penerapan aturan disiplin.
Kartu merah terbaru hingga babak perempat final diterima penyerang Swiss Breel Embolo saat menghadapi Argentina.
Embolo sebelumnya telah mengantongi satu kartu kuning sebelum akhirnya menerima kartu kuning kedua usai VAR menilai dirinya melakukan simulasi di kotak penalti.
Keputusan tersebut membuat Swiss harus bermain dengan 10 orang dan akhirnya tersingkir setelah kalah 1-3 pada babak perpanjangan waktu.
Kapten Swiss Granit Xhaka dan pelatih Murat Yakin menyebut keputusan wasit menjadi titik balik yang mengubah jalannya pertandingan.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui perubahan situasi pertandingan setelah Swiss kehilangan satu pemain menjadi salah satu faktor yang mampu dimanfaatkan timnya.
“Kami mampu beradaptasi dengan situasi pertandingan dan memanfaatkan ruang yang tersedia setelah lawan kehilangan satu pemain,” ujar Scaloni seusai pertandingan.
Sejumlah pengamat menilai tingginya jumlah kartu merah pada Piala Dunia 2026 tidak lepas dari penerapan VAR yang semakin ketat dalam mengawasi pelanggaran serius.
Di sisi lain, kontroversi mengenai penangguhan hukuman Balogun menunjukkan bahwa konsistensi penerapan regulasi disiplin masih menjadi pekerjaan rumah bagi FIFA.
Dengan turnamen yang kini memasuki babak semifinal, setiap keputusan wasit diperkirakan akan semakin menjadi sorotan karena berpotensi menentukan langkah tim menuju gelar juara.
Dapatkan pembaruan berita terbaru Saritanews.com melalui Halaman Facebook dan Saluran WhatsApp resmi Saritanews.com.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan