Sampit, Sarita News – “Tik-tik-tik.” Suara palu menghantam besi memecah siang yang terik di Desa Bapinang Hulu. Di balik dentingan itu, M. Saini dengan telaten menempa sebatang besi menjadi mandau, senjata tradisional khas Dayak yang sarat makna budaya.
Api dalam tungku dengan berserakan arang di sekitarnya terus dijaga untuk tetap membara guna memanaskan besi, seakan setia menemani Saini dalam kesendiriannya saat berkonsentrasi menunaikan pekerjaan.
Atap bocor, dinding yang hanya tersisa sebagian, serta papan-papan tua yang mulai miring memperlihatkan betapa sederhana bengkel itu. Namun kondisi tersebut tak mengurangi semangat Saini untuk terus bekerja.
Sesekali Saini membungkukkan badan mendekati bara api untuk memastikan suhu besi tetap terjaga. Keringat membasahi pelipisnya, namun ayunan palu di tangannya tidak pernah kehilangan irama.
Dengan ketelitian tinggi, Saini menempa batangan besi hingga berubah menjadi mandau, senjata tradisional khas Dayak di Tanah Borneo.
Tak terhitung lagi jumlah mandau yang telah lahir dari tangannya sejak ia menekuni profesi pandai besi puluhan tahun lalu dan hasilnya pun dapat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.
Warga setempat mengenal profesi itu sebagai ‘manitik’, sebutan bagi pandai besi tradisional yang menempa berbagai alat tajam secara manual.
Di tengah semakin langkanya profesi manitik, Saini tetap bertahan. Baginya, pekerjaan itu bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan bentuk upaya menjaga warisan budaya Dayak.
“Mandau bukan sekadar senjata tradisional khas Dayak, melainkan simbol budaya, kehormatan, dan identitas masyarakat Kalimantan yang diwariskan turun-temurun,” kata pria 69 tahun itu, Selasa (9/6/2026).
Dari tangan lelaki kelahiran 1957 itu, terciptalah berbagai mandau dengan ukiran khas Dayak yang memiliki nilai seni tinggi.
Setiap mandau dibuat melalui proses panjang, mulai dari pembentukan bilah, pembuatan gagang, sarung atau kumpang, hingga tahap akhir pelapisan pernis agar terlihat indah dan tahan lama.
Keunikan mandau khas Dayak yang dibuat Saini terletak pada ukiran di bagian gagang dan sarungnya. Semakin rumit ukiran yang dibuat, biasanya semakin tinggi pula nilai seni dan status sosial pemiliknya.
“Untuk bahan gagang dan sarung, saya menggunakan bahan alami seperti tanduk serta kayu pilihan yang dikenal kuat dan memiliki corak khas alami,” ucap Saini.
Untuk anyaman mandau, ia menggunakan rotan yang dirangkai secara manual, sehingga menambah kesan tradisional dan artistik pada setiap karya yang dibuatnya.
“Mandau yang saya buat ini murni karya seni budaya Dayak dan tidak ada unsur magisnya,” ungkapnya.
Selain mandau, Saini juga menerima berbagai pesanan tempaan lain seperti parang, pisau, lading, kapak, arit, eggrek, dudus, hingga berbagai alat tajam tradisional lainnya yang masih digunakan masyarakat.
Harga mandau buatannya pun bervariasi, mulai dari Rp500 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitan ukiran, ukuran, serta bahan yang digunakan.
Di balik usahanya yang sederhana, Saini menyimpan kecemasan akan hilangnya budaya membuat Mandau di masa depan. Bukan tanpa dasar, ia menyaksinya sendiri semakin berkurangnya minat generasi muda menggeluti profesi sebagai pengrajin tradisional dari tahun ke tahun.
“Sekarang sudah jarang anak muda yang mau belajar. Padahal ini budaya kita sendiri,” tuturnya.
Pemerintah menurutnya diharapkan memberikan perhatian lebih kepada para pengrajin tradisional daerah, baik melalui promosi budaya, pelibatan dalam pameran, maupun bantuan pengembangan usaha agar kerajinan khas Dayak tetap dikenal luas.
“Harapan saya budaya ini jangan sampai hilang. Mudah-mudahan ada anak muda yang mau belajar, dan pemerintah juga bisa membantu memperkenalkan karya-karya budaya daerah,” jelasnya.
Menurutnya, dukungan masyarakat untuk membeli dan memperkenalkan karya pengrajin lokal juga menjadi bagian penting dalam menjaga budaya agar tetap hidup.
Menjelang sore, bara api di tungku masih menyala. Dentingan palu terus terdengar dari bengkel kayu sederhana yang telah puluhan tahun menjadi saksi perjalanan hidup Saini.
Di usianya yang menginjak 69 tahun, ia masih setia menempa besi menjadi mandau, berharap suatu hari ada generasi muda yang bersedia melanjutkan warisan budaya Dayak yang dijaganya selama ini.
Simak Berita Sarita News Melalui Google Berita

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan